Langkah-langkah Umum Troubleshooting Proses Biological
Anda dapat mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dengan langkah-langkah umum dalam troubleshooting proses biological di Wastewater Treatment Plant (WWTP) agar menjaga kinerja sistem pengolahan air limbah tetap optimal.
Berikut adalah langkah-langkah secara sistematis yang dapat membantu Anda:

1. Identifikasi Masalah Utama
- Periksa parameter kualitas effluent seperti BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), amonia, nitrat, fosfor, dan suspended solids.
- Analisis kinerja proses biologis dengan membandingkan hasil yang diharapkan dengan kondisi aktual, misalnya pengolahan BOD atau pengurangan amonia yang rendah.
2. Tinjau Proses Aerasi
- Periksa kadar DO (Dissolved Oxygen) dalam sistem aerasi, karena kadar DO yang rendah dapat menghambat proses biologis.
- Verifikasi kinerja blower dan diffuser: Jika aliran udara kurang, distribusi oksigen di reaktor biologis akan terganggu.
- Cek pengaturan aerasi: Sesuaikan aliran udara untuk memastikan oksigen terdistribusi dengan baik di seluruh reaktor biologis.
3. Periksa Konsentrasi Mikroorganisme (Lumpur Aktif)
- Periksa konsentrasi biomassa mikroba di dalam reaktor untuk memastikan bahwa jumlah mikroorganisme cukup untuk proses dekomposisi bahan organik.
- Evaluasi stabilitas lumpur aktif: Flok yang rapuh atau terlalu halus bisa menyebabkan masalah dalam pengendapan dan penghilangan bahan organik.
4. Monitor Parameter Operasional
- Periksa pH dalam sistem biologis (biasanya di kisaran 6–8). pH yang terlalu tinggi atau rendah bisa menghambat aktivitas mikroorganisme.
- Verifikasi suhu: Suhu terlalu rendah atau terlalu tinggi bisa mengurangi efisiensi proses biologis.
- Evaluasi SRT (Sludge Retention Time): SRT yang terlalu pendek atau panjang dapat mengganggu proses biologis, jadi perlu menyesuaikan waktu tinggal lumpur dalam sistem.
5. Tinjau Beban Organik dan Kualitas Limbah Masuk
- Periksa variasi kualitas dan kuantitas limbah masuk: Fluktuasi besar dalam beban organik (BOD) dapat menyebabkan gangguan dalam proses biologis.
- Analisis jenis bahan organik yang masuk, terutama jika ada bahan kimia atau senyawa yang dapat menghambat aktivitas mikroorganisme (misalnya deterjen, surfaktan, atau bahan beracun).
6. Periksa Sistem Clarifier (Pengendapan)
- Evaluasi kinerja clarifier untuk memastikan flok terendapkan dengan baik. Jika flok terlalu halus atau rapuh, bisa menyebabkan masalah dalam pengendapan.
- Periksa sistem pengambilan lumpur: Pastikan sistem pengendapan dan pengeluaran lumpur berjalan dengan baik untuk mencegah terjadinya penyumbatan atau kegagalan dalam pemisahan solid.
7. Tinjau Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi
- Verifikasi keberhasilan nitrifikasi: Proses ini sangat tergantung pada kadar oksigen terlarut dan pH yang optimal. Jika kadar amonia tetap tinggi, mungkin nitrifikasi tidak terjadi dengan baik.
- Periksa kondisi denitrifikasi: Pastikan adanya kondisi anaerobik dan cukupnya karbon organik untuk mengurangi nitrat menjadi gas nitrogen.
8. Evaluasi Sistem Pencernaan Lumpur
- Periksa kondisi pencernaan anaerobik atau aerobik: Suhu, pH, dan pasokan nutrisi yang tidak tepat bisa menghambat pencernaan lumpur.
- Monitor pembentukan biogas (jika menggunakan pencernaan anaerobik): Gangguan pada sistem pencernaan bisa mengurangi pembentukan gas dan mengakibatkan akumulasi lumpur yang berlebihan.
9. Cek Peralatan dan Infrastruktur
- Pastikan tidak ada kerusakan mekanis: Pemeriksaan rutin pada peralatan seperti pompa, blower, dan sistem aerasi sangat penting untuk memastikan proses biologis berjalan lancar.
- Periksa sistem sirkulasi lumpur: Jika ada kerusakan atau penyumbatan, lumpur mungkin tidak dapat dipompa kembali ke reaktor atau diproses dengan benar.
10. Lakukan Pengujian dan Pemantauan Berkala
- Uji kualitas air limbah secara rutin untuk memantau parameter penting seperti pH, DO, BOD, COD, amonia, dan nitrat.
- Gunakan alat pemantauan otomatis untuk mendeteksi fluktuasi yang dapat mengindikasikan masalah dalam proses biologis.
11. Implementasi Solusi dan Pemeliharaan Preventif
- Berdasarkan temuan dari langkah-langkah di atas, lakukan perbaikan atau penyesuaian yang diperlukan pada sistem aerasi, reaktor biologis, atau sistem pengendapan.
- Rencanakan pemeliharaan preventif secara berkala untuk memastikan proses biologis tetap efisien dan mengurangi kemungkinan masalah di masa depan.
Anda juga dapat Baca::





