Surowater

Home / Wastewater treatment / Cara Kerja Klarifier Sekunder dalam Sistem Pengolahan Air Limbah

Cara Kerja Klarifier Sekunder dalam Sistem Pengolahan Air Limbah

Cara Kerja Klarifier Sekunder dalam Sistem Pengolahan Air Limbah

Dalam sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), proses biologis seperti activated sludge, MBBR, dan SBR tidak akan menghasilkan air olahan yang jernih tanpa adanya unit pemisahan yang efektif. Unit tersebut adalah klarifier sekunder. Memahami cara kerja klarifier sekunder sangat penting karena unit ini berperan langsung dalam memisahkan lumpur aktif dari air hasil proses biologis serta menjaga kestabilan kinerja IPAL secara keseluruhan.


Apa Itu Klarifier Sekunder?

Klarifier sekunder adalah unit sedimentasi yang ditempatkan setelah proses biologis (bak aerasi). Fungsinya adalah untuk mengendapkan lumpur aktif (biomassa bakteri) sehingga diperoleh air jernih (effluent) yang memenuhi baku mutu lingkungan.

Berbeda dengan klarifier primer yang mengendapkan padatan kasar, klarifier sekunder dirancang khusus untuk mengendapkan flok biologis yang terbentuk selama proses penguraian bahan organik oleh bakteri.


Cara Kerja Klarifier Sekunder

Secara teknis, cara kerja klarifier sekunder berlangsung melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut:


1. Aliran Masuk dari Bak Aerasi

Air limbah yang telah melalui proses biologis masuk ke klarifier sekunder dalam bentuk mixed liquor, yaitu campuran air dan lumpur aktif.

Aliran masuk diarahkan ke inlet well untuk mengurangi turbulensi agar proses pengendapan tidak terganggu.


2. Proses Penurunan Kecepatan Aliran

Di dalam tangki klarifier, kecepatan aliran air diperlambat secara signifikan.
Kondisi ini memberikan waktu yang cukup bagi flok lumpur aktif untuk mulai mengendap akibat gaya gravitasi.


3. Pengendapan Lumpur Aktif

Flok lumpur aktif yang memiliki berat jenis lebih besar dari air akan turun dan mengendap di dasar klarifier.
Proses ini disebut secondary sedimentation dan menjadi inti dari cara kerja klarifier sekunder.


4. Pengumpulan Lumpur di Dasar Tangki

Lumpur yang telah mengendap dikumpulkan menggunakan sludge scraper menuju sludge hopper.
Sistem ini bekerja secara mekanis atau hidrolik tergantung desain klarifier.


5. Pemisahan Air Jernih (Effluent)

Air yang telah terbebas dari lumpur aktif akan naik ke bagian atas tangki dan mengalir keluar melalui effluent weir sebagai air olahan.

Air ini selanjutnya dapat:

  • Dibuang ke badan air
  • Digunakan kembali (reuse)
  • Diproses ke tahap lanjutan seperti filtrasi atau disinfeksi

6. Resirkulasi dan Pembuangan Lumpur (RAS & WAS)

Lumpur hasil pengendapan dibagi menjadi dua aliran:

  • Return Activated Sludge (RAS)
    Dikembalikan ke bak aerasi untuk menjaga populasi bakteri tetap stabil.
  • Waste Activated Sludge (WAS)
    Dibuang sebagai lumpur berlebih untuk mengontrol konsentrasi MLSS.

Tahap ini sangat penting dalam menjaga keseimbangan sistem biologis.


Skema Sederhana Cara Kerja Klarifier Sekunder

Bak Aerasi → Inlet Well → Pengendapan Lumpur → Effluent Jernih → RAS & WAS

Skema ini menunjukkan bahwa klarifier sekunder menjadi penghubung vital antara proses biologis dan kualitas air hasil olahan.

Cara Kerja Klarifier Sekunder dalam Sistem Pengolahan Air Limbah


Komponen yang Mendukung Cara Kerja Klarifier Sekunder

Agar klarifier sekunder bekerja optimal, beberapa komponen utama harus berfungsi dengan baik:

Komponen Fungsi
Inlet Well Menenangkan aliran masuk
Tangki Klarifier Tempat sedimentasi
Sludge Scraper Mengumpulkan lumpur
Sludge Hopper Penampung lumpur aktif
Pompa RAS Resirkulasi lumpur ke aerasi
Pompa WAS Pembuangan lumpur berlebih
Effluent Weir Mengalirkan air jernih
Scum Baffle Menahan buih dan lemak

Parameter yang Mempengaruhi Cara Kerja Klarifier Sekunder

Efektivitas kerja klarifier sekunder sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter operasi berikut:

  • MLSS (Mixed Liquor Suspended Solids)
  • SVI (Sludge Volume Index)
  • Hydraulic Retention Time (HRT)
  • Surface Overflow Rate (SOR)
  • Debit RAS dan WAS

Pengaturan parameter ini harus seimbang agar lumpur dapat mengendap dengan baik dan tidak terbawa keluar bersama efluen.


Masalah Umum dalam Cara Kerja Klarifier Sekunder

Beberapa gangguan yang sering terjadi dalam operasional klarifier sekunder antara lain:

1. Lumpur Terbawa ke Efluen

Penyebab: Beban hidrolik tinggi atau SVI buruk
Solusi: Kurangi debit masuk dan optimalkan pembuangan WAS

2. Lumpur Mengambang (Rising Sludge)

Penyebab: Denitrifikasi di dalam klarifier
Solusi: Kontrol DO di bak aerasi dan atur rasio RAS

3. Penumpukan Lumpur di Dasar Klarifier

Penyebab: Sludge scraper tidak optimal
Solusi: Lakukan inspeksi dan perawatan mekanikal rutin


Peran Klarifier Sekunder dalam Keberhasilan IPAL

Cara kerja klarifier sekunder yang optimal akan memberikan dampak langsung terhadap:

  • Kejernihan air efluen
  • Efisiensi penurunan BOD, COD, dan TSS
  • Stabilitas proses biologis
  • Umur pakai sistem IPAL

Oleh karena itu, klarifier sekunder sering disebut sebagai kunci keberhasilan sistem pengolahan air limbah.


Kesimpulan: Cara kerja klarifier sekunder merupakan proses sedimentasi lanjutan yang bertujuan memisahkan lumpur aktif dari air hasil pengolahan biologis. Dengan desain yang tepat, pengoperasian yang terkontrol, serta perawatan rutin, klarifier sekunder mampu menghasilkan air olahan yang jernih dan memenuhi baku mutu lingkungan.

Pemahaman yang baik mengenai cara kerja ini sangat penting bagi operator dan perancang IPAL untuk menjamin sistem bekerja secara efisien dan berkelanjutan.


🔧 Butuh Klarifier Sekunder atau Optimasi IPAL?

Kami menyediakan layanan desain, fabrikasi, instalasi, dan optimasi klarifier sekunder untuk IPAL domestik maupun industri.
Solusi profesional, efisien, dan sesuai standar lingkungan.

📞 Hubungi Kami Sekarang untuk konsultasi teknis dan penawaran terbaik!


Artikel terkait:

👉 Apa Itu Lamella Tube Settler Clarifier? Fungsi, Proses, dan Manfaatnya
👉 Perbedaan Turbidity vs Suspended Solids
👉 Apa Itu Clarifier System? Fungsi, Prinsip Kerja, dan Aplikasinya
👉 Parameter Operasional SBR: DO, MLSS, HRT, dan SRT
👉 Waktu Retensi Hidrolik (HRT) pada Sistem MBBR
👉 Apa itu Waktu Retensi Hidraulik (HRT) dalam WWTP?
👉 Rasio MLSS dan MLVSS dalam Pengolahan Air Limbah
👉 Faktor Penting dalam Kinerja Proses Activated Sludge
👉 Apa yang Dimaksud dengan BOD atau BOD₅
👉 Sludge Retention Time pada Proses Activated Sludge

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *