Surowater

Home / Water treatment / Menentukan Penggunaan Tawas dalam Pengolahan Air

Menentukan Penggunaan Tawas dalam Pengolahan Air

Menentukan Penggunaan Tawas dalam Pengolahan Air: Panduan Lengkap dan Praktis

Dalam proses pengolahan air, baik untuk air minum maupun air limbah, penggunaan tawas (aluminium sulfat) menjadi salah satu langkah penting dalam tahap koagulasi-flokulasi. Namun, menentukan penggunaan tawas yang tepat bukanlah hal sepele—dosis yang kurang akan membuat partikel kotoran tidak menggumpal, sementara dosis berlebih bisa menurunkan kualitas air hasil akhir dan menambah biaya operasional. Lalu, bagaimana cara menentukan penggunaan tawas yang ideal dalam pengolahan air? Berikut panduan lengkapnya.


Apa Itu Tawas dan Mengapa Digunakan?

Tawas atau aluminium sulfat (Al₂(SO₄)₃·18H₂O) adalah bahan kimia berbentuk kristal putih yang berfungsi sebagai koagulan—yakni membantu menggumpalkan partikel halus dan koloid dalam air agar mudah disaring atau mengendap. Tawas banyak digunakan dalam:

Menentukan Penggunaan Tawas dalam Pengolahan Air


Faktor yang Mempengaruhi Dosis Tawas

Menentukan dosis tawas tidak bisa asal-asalan. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain:

  1. Kekeruhan air (turbidity atau TSS)
    Semakin keruh air, semakin besar kebutuhan tawas.
  2. pH air
    Tawas bekerja optimal pada pH 5,5–7. Di luar rentang ini, efektivitas koagulasi menurun.
  3. Kandungan bahan organik dan logam berat
    Bahan pencemar tertentu memerlukan penyesuaian dosis atau kombinasi koagulan tambahan.
  4. Waktu pengendapan dan metode pengolahan
    Desain sistem pengolahan juga berpengaruh terhadap efektivitas penggunaan tawas.

Cara Menentukan Penggunaan Tawas

1. Uji Jar Test (Metode Laboratorium)

Jar test adalah metode praktis dan akurat untuk menentukan dosis tawas. Caranya:

  • Ambil sampel air baku dan masukkan ke beberapa gelas ukur (biasanya 1 liter).
  • Tambahkan tawas dengan konsentrasi berbeda (misalnya 10–100 mg/L).
  • Aduk cepat selama 1–2 menit (koagulasi), kemudian lambat selama 15–20 menit (flokulasi).
  • Diamkan selama 30 menit.
  • Amati kejernihan dan volume endapan. Pilih dosis terbaik berdasarkan kejernihan tertinggi dan endapan yang cukup stabil.

Baca juga : Analisis Air

2. Perhitungan Estimasi (Empiris)

Sebagai gambaran awal sebelum uji laboratorium, Anda dapat menggunakan rumus berikut:

Dosis tawas (mg/L)= Kekeruhan (NTU) × 10

Contoh: Jika kekeruhan air = 100 NTU, maka dosis awal = 100 × 10 = 1000 mg/L (1 gram per liter).

3. Konversi ke Satuan Massal

Setelah mendapatkan dosis, hitung total kebutuhan tawas dengan rumus:

Jumlah tawas (kg) = Dosis (mg/L) × Volume air (m³) : 1.000.000

Contoh: Jika dosis = 50 mg/L dan volume air = 100 m³:

Jumlah tawas = 50 × 100 : 1.000.000 = 5 gram

💡 Jika volume air besar (misalnya 1000 m³), hasil akan dalam kilogram. Untuk skala industri, ini lebih relevan.


Tips Efisien Menggunakan Tawas

  • Pantau pH air secara berkala. Jika terlalu asam akibat tawas, tambahkan kapur (Ca(OH)₂).
  • Gunakan koagulan bantu (misalnya PAC atau polymer) untuk hasil lebih stabil pada air dengan kandungan organik tinggi.
  • Periksa kadar aluminium sisa dalam air hasil—jangan sampai melebihi batas aman (biasanya <0,2 mg/L untuk air minum).

Kesimpulan, Menentukan penggunaan tawas dalam pengolahan air membutuhkan pendekatan ilmiah dan teknis. Uji laboratorium sederhana seperti jar test sangat disarankan untuk mendapatkan hasil optimal. Penggunaan tawas yang tepat tidak hanya menjamin kejernihan air, tetapi juga efisiensi biaya dan keamanan pengguna.

Dengan memahami faktor-faktor penting dan metode penentuan dosis tawas, Anda dapat meningkatkan efektivitas sistem pengolahan air di rumah, industri, maupun instalasi berskala besar.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *